<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37616149</id><updated>2011-04-21T17:24:19.106-07:00</updated><title type='text'>maridjan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maridjan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maridjan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Imam Hidayah Usman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37616149.post-116431313845378086</id><published>2006-11-23T12:18:00.001-08:00</published><updated>2006-11-23T12:18:58.470-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sahabat Seperjalanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu di sebuah kaki gunung yang berketinggian sekitar 8000 meter, Sofi berdiri kuat-kuat memijak bumi. Udara yang dingin seolah tidak mempengaruhi keberaniannya yang telah ia himpun semenjak setahun lalu. Tapi keberanian seringkali membuat manusia menjadi gegabah. Mungkin karena itulah kenapa pada hari itu Sofi berada sendirian di sini. Benar-benar sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tujuan hidupku, Sofi berkeras sekali lagi dalam hati, dan aku telah tiba di sini bukan untuk kembali pada apa yang telah kutinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu ia masih di Jakarta. Dan setahun yang lalu pula, persis, keinginan untuk meninggalkan kota yang semakin lama kian membosankan itu mulai datang. Ia bosan dengan rutinitas harian yang sudah menjadi semacam kewajiban untuk ia jalani. Ia bosan berada di tengah orang-orang yang melulu berbicara mengenai realita. Ia ingin lepas dari itu semua. Ia ingin merasakan lagi bebasnya mempunyai mimpi. Mimpi yang benar-benar datang dari dalam dirinya sendiri. Bukan yang dipajang di etalase-etalase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun adalah waktu yang cukup untuk membuat dia menyadari bahwa tempatnya bukan di sana. Setahun adalah waktu yang terlalu lama untuk menjadi tidak didengar dan harus mendengarkan. Setahun adalah waktu yang cukup untuk membuat ia yakin bahwa yang pantas didengar adalah panggilan hatinya sendiri. Dan setahun cukup sudah untuk melahirkan keberanian meninggalkan kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang, di sini, di kaki gunung raksasa ini, Sofi sendirian. Sementara semua hal telah terlanjur ia tinggalkan di belakang. Dan ia berhadapan dengan pilihannya sendiri. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesendirian itu membuatnya tidak yakin akan nilai yang ia percaya. Sebab nilai-nilai yang ia tahu adalah nilai-nilai yang dipercaya oleh orang-orang banyak di lingkungannya. Sofi tidak pernah benar-benar membuat nilai benar dan nilai salah bagi dirinya sendiri. Semua itu sudah ada. Semua itu sudah dibuatkan entah sejak kapan dan oleh siapa. Sedangkan Sofi dan orang-orang yang hidup di dalam lingkungan yang sama hanya boleh mempercayainya saja. Lain tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk bercita-cita untuk mendaki gunung paling tinggi sedunia, dan untuk itu Sofi harus meninggalkan pekerjaan di kantor. Cita-cita semacam itu hanya dipandang oleh orang-orang di kantornya sebagai sesuatu yang tidak realistis. Apa untungnya? Apakah dengan mendaki gunung bisa menghadiahkan rumah? Apakah mendaki gunung setinggi itu bisa membuatmu masuk sorga? Dan Sofi sudah terlanjur melupakan apa kata orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa sampai tiba di sini karena memiliki keraguan―sesuatu yang selalu dianggap subversif atau bahkan tidak beriman. Tapi keraguan itu sendiri yang membuatnya keluar dari nilai-nilai yang tidak pernah diujinya sendiri. Keraguan itu yang membuatnya mencari jalan hidup yang otentik. Jalan hidup yang ia tentukan sendiri. Entah resiko apapun yang menghadangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang dilihat di depan matanya kini, adalah sesuatu yang sangat besar. Dan itu adalah sesuatu yang harus ia selesaikan sendiri! Tiba-tiba saja ia merasa sedikit gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi tentu bukan orang yang telah kehilangan kewarasan. Sofi bukan orang yang harus dikurung di rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan. Sofi hanya orang yang berpikir beda dari orang-orang kebanyakan. Ia hanya orang yang mempunyai tujuan hidup yang tidak sama dengan orang-orang kebanyakan. Tapi dia juga bukan orang gila yang akan nekat untuk naik ke ketinggian seperti itu sendirian. Karena itulah sejak sejam yang lalu ia masih berdiri saja di sana mengukuhkan keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, tiba-tiba Sofi mendengar suara laki-laki dari belakangnya. Sofi menoleh. Dari wajahnya dan cara ia mengucapkan ‘hei’ barusan Sofi langsung tahu kalau ia juga dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang bertemu denganmu di sini. Saya Hiram. Ia mengulurkan tangan ke depan Sofi. Dan mereka pun berkenalan. Hiram bercerita bahwa ia bisa ada di tempat itu karena alasan-alasan yang sama dengan Sofi. Dan itu membuat Sofi merasa tidak lagi sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai sekarang? Hiram bertanya setelah mereka bercerita mengenai diri mereka masing-masing. Sofi mengangguk mantap. Dan mereka pun memulai langkah pertama mereka sebagai sepasang sahabat seperjalanan yang mempunyai tujuan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu meter pertama mereka lalui dengan penuh gairah. Tidak pernah mereka menemukan teman yang benar-benar mempunyai kesamaan tujuan sebelum ini. Langkah mereka diayunkan mantap-mantap. Tak ada keraguan sedikit pun. Sesekali mereka berjalan sembari berbincang mengenai apapun. Mengenai betapa beraninya mereka meninggalkan dunia di bawah sana yang kini terlihat tidak ada apa-apanya. Mengenai Tuhan yang selalu bersama orang-orang pemberani. Mengenai langit satu-satunya tempat di mana kebenaran tersimpan. Mengenai apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duaribu meter sudah mereka tempuh. Langit sudah mulai gelap. Dan tak disangka mereka menjumpai tenda berdiri di sana lengkap dengan api unggun menyala di depannya. Mereka pun menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permisi, Sofi menyapa dari arah luar. Memastikan bahwa tenda tersebut memang ada penghuninya. Tak lama kemudian muncul dari dalam tenda seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengan Hiram. Hai, ia menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sedang beristirahat? Sofi bertanya. Pemuda itu yang memperkenalkan diri dengan nama Kevin bercerita bahwa ia sudah sehari menginap di sana. Ia hanya sedang berpikir untuk mengambil keputusan dalam menentukan rute mana yang ingin ia ambil. Di sana memang terlihat ada semacam persimpangan. Satu jalan ke kanan dan lainnya ke kiri. Dan masing-masing rute mempunyai kesenangan masing-masing. Sebenarnya hanya masalah apakah kita ingin menyaksikan Sunset atau Sunrise pada ketinggian empatribu meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram menyenangi Sunrise. Ia adalah orang yang menggandrungi pagi seperti ia menggandrungi kopi hitam yang ia minum setiap paginya. Karena itu ia yakin bahwa ia akan mengambil jalan yang dapat melihat Sunrise pada ketinggian empatribu meter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi agak sedikit bingung berada dalam kondisi seperti itu. Bukan apa-apa. Tapi ia memang lebih menyukai Sunset. Karena Sunset baginya seperti meniadakan harapan. Dan baginya, orang hanya dapat benar-benar bebas ketika tidak mempunyai harapan apa-apa. Ia memang pencinta kebebasan. Saat itulah Sofi merasa takut untuk mengecewakan Hiram, temannya melangkahkan kaki pertama kali hingga bisa sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram memang agak sedikit kecewa mengetahui kenyataan tersebut. Ditambah lagi Kevin seolah langsung mantap untuk melalui rute yang bisa melihat Sunset ketika ia mengetahui bahwa Sofi tertarik untuk lewat sana. Tapi kita berangkat harus pagi-pagi benar, Sofie, ujar Kevin yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram merasa terusik dengan kehadiran orang baru ini di tengah-tengah perjalanan mereka berdua. Saat itu ia merasa posisinya terancam. Ia takut kehilangan Sofi. Karena ia tahu, tanpa Sofi mungkin sampai saat ini ia pun masih berada di bawah sana karena ragu tidak mempunyai sahabat seperjalanan yang benar-benar cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kekecewaan itu ada di mata Hiram, Sofi mengajak Hiram berbicara berdua saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiram, kamu percaya saja padaku. Lagipula kalau kita memang ditakdirkan untuk bertemu lagi, mungkin kita akan bertemu di suatu persimpangan di atas sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu berarti mungkin juga tidak,” bantah Hiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak kita bisa ketemu di puncak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram geram. Ia benci pada apapun yang sifatnya masih serba menduga-duga. Lagipula bukankah tadi kita mempunyai tujuan untuk tiba di puncak itu bersama-sama? Kenapa perempuan ini jadi seperti berubah pikiran, atau berubah metode? Hiram bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak suka kamu jalan dengan orang itu,” Hiram mulai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanya Sofi. Dan Hiram tidak bisa memberi alasan yang masuk di akal Sofi. “Pokoknya tidak suka saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak percaya pada orang itu,” jawab Hiram cepat-cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi diam. Bukan tanda setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan berat hati, Sofi pun harus merelakan Sunset-nya. Dan malam itu mereka tidur di dalam tenda masing-masing tanpa berbincang-bincang apapun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, mereka berpisah jalan dengan Kevin. Sofi mulai terlihat tidak bersemangat lagi dalam setiap langkahnya. Tidak seperti kemarin. Tidak seperti ketika mereka baru bertemu. Hiram merasa bersalah. Tapi tampaknya permintaan maaf tidak akan pernah bisa melunturkan kekecewaan dari wajah sahabat seperjalanannya itu. Akhirnya tidak ada lagi perbincangan yang menarik seperti kemarin. Tidak ada lagi obrolan tentang Tuhan, Langit, ataupun keberanian mereka. Yang ada adalah siasat dan siasat untuk membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan lagi bagi mereka berdua. Dan wajah perempuan itu tetap tidak seceria kemarin pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya memang bukan sahabat seperjalanan yang menyenangkan, Sofi, ujar Hiram ketika mereka berhenti sebentar untuk minum. Hiram tahu itu bukan perkataan yang menyenangkan. Tapi ia juga seperti sudah putus asa melihat wajah temannya tidak juga bisa kembali seperti dulu kala. Akhirnya yang bisa ia lakukan adalah mengutuk-ngutuki dirinya sendiri. Dan itu malah membuat Sofi merasa kalau pria ini menyebalkan ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka jadilah menyenangkan. Dan buatlah perjalanan ini menyenangkan!” bentak Sofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah! Lihat! Bahkan kamu sudah marah-marah sama saya. Tidakkah itu menunjukkan kalau kamu memang tidak sungguh-sungguh ingin jalan dengan saya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kotoran, kamu!” dan Sofie pun berdiri dari duduknya. Tapi ia tidak melanjutkan mendaki. Melainkan sebaliknya. Ia mulai melangkah turun cepat-cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau kemana?” Hiram sontak berdiri dan mengejar Sofi. Dalam waktu beberapa detik Hiram sudah berdiri di hadapan Sofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya sudah jelas? Aku mau turun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu urusanku dong! Aku punya hak untuk menentukan apa yang aku mau lakukan!” ujar Sofi seraya berusaha menerobos hadangan Hiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, nggak bisa begitu juga doooong!” Hiram meraih pergelangan Sofi kuat-kuat. Dan ia tahu itu menyakitkan Sofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepaskan! Sakit tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya makanya, jangan pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsat, kamu! Kamu sudah melanggar hakku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kamu tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hak apa, hah? Kamu nggak punya hak apa-apa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram agak bingung sebenarnya hak apa yang sekiranya dilanggar oleh sahabat seperjalanannya ini. Tapi ia hanya merasa telah dikecewakan. Ia merasa telah ditinggalkan. Apakah membuat kecewa orang lain bisa termasuk ke dalam pelanggaran hak? Sedangkan perjalanan sudah sejauh ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan tanpa Sofi di sampingnya. Karena tujuannya pada awalnya adalah mencapai puncak bersama dengan Sofi. Hanya dengan Sofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepasin! Lepasin nggak?” Sofie meronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau kemana, sih? Kamu mau menyusul si Kevin genit itu, hah? Kamu mau mencapai puncak bersama dia, iya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Picik sekali kamu, kamu tahu itu? Sudah aku duga, sebenarnya kamu bukannya tidak percaya pada orang itu. Kamu tidak percaya padaku. Akui saja itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya percaya kamu sungguh… Saya percaya Kamu jangan pergi…” Hiram putus asa. Ia melepas genggamannya pada lengan Sofi dan terkulai di salju yang dingin. Lesu tanpa harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah. Kalau begitu biar aku yang memimpin jalan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke!” terbit harapan lagi dari diri Hiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofi berjalan di depan Hiram. Pembicaraan di antara mereka dari yang tadinya jarang, kini benar-benar jarang hingga bisa dibilang tidak ada sama sekali. Hanya seperlunya. Kamu belum lapar? Kamu sudah lelah? Awas licin! sehambar itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Hiram merasa bahwa ia harus mulai mengambil alih memimpin jalan lagi. Sofie kamu jalan di belakang saya, hari sudah mulai gelap. Sofie semakin yakin bahwa Hiram memang tidak pernah benar-benar mempercayainya. Dan mereka beristirahat di ketinggian empatribu meter. Dinginnya batu pegunungan itu menyamai dingin di dalam hati mereka masing-masing.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram terbangun di pagi hari untuk mempersembahkan Sunrise-nya kepada sahabat seperjalanannya. Tapi ketika ia keluar dari tendanya, ia tidak menemui tenda Sofi di samping tendanya berdiri. Dan ia pun mulai panik. Ia berteriak memanggil-manggil nama temannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jejak langkah Sofi masih membekas pada salju. Sehingga memungkinkan Hiram untuk melacak arah kepergian Sofi. Dan diterkanya ia tidak turun, melainkan terus mendaki. Hiram bergegas mengejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa belas menit Hiram berlari, ia akhirnya melihat satu sosok yang sedang bergerak naik. Ia tahu kalau itu adalah Sofi. Ia pun berteriak memanggilnya. Tapi sosok itu sepertinya tidak berhenti. Ia pun memutuskan untuk berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sofi, sofi,” Hiram mulai memanggil lagi dengan nafas tersengal ketika jarak di antara mereka sudah nyaris tidak ada. Dan Sofi masih berjalan terus seolah benar-benar tidak mendengar suara Hiram. “Sofi kamu mau kemana. Kenapa saya ditinggal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari terus berjalan Sofi berbicara dengan nada dingin. “Sepertinya orientasi hidupku sudah berubah. Aku rasa aku bisa mencapai puncak itu sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud kamu tanpa saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanpa siapapun!” tegas Sofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Sofi…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka pun melanjutkan perjalanan dengan adu argumen yang sama sekali tidak menarik. Hingga akhirnya keduanya sama-sama merasa lelah, dan mereka berisitirahat untuk minum di ketinggian limaribu meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam kemudian, sejam yang mereka telah habiskan tanpa pembicaraan apapun, tiba-tiba dari suatu persimpangan muncul sosok pemuda yang berjalan tertatih. Dari wajahnya terlihat bahwa ia sangat kelelahan. “Ah, syukurlah ada manusia. Kawan, apakah kalian masih punya persediaan air?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Rangga. Dia juga orang Indonesia. Bedanya dia datang dari India. Tidak terlalu jauh dari sini. Dia seumuran dengan Sofi. Dan ia sedang kehabisan persediaan air. Tapi dia percaya jika Tuhan menghendaki maka ia akan menjumpai siapa saja di suatu tempat yang bisa memberinya air. Itu terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kalian ada di sini karena merasa bosan dengan sistem Indonesia yang sudah tidak memberi ruang untuk orang-orang idealis seperti kalian untuk hidup?” Rangga berbicara setelah ia menghabiskan satu botol air persediaan Sofi. Entah kenapa Sofi baik sekali pada orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku ke sini, karena merasa bisa menemukan orang-orang hebat seperti kalian di sini. Dan aku yakin,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya malam itu mereka bertiga mendirikan tenda masing-masing di tempat itu juga. Hiram mulai menurun kesehatannya. Sehingga tidak mungkin melanjutkan perjalanan saat itu juga. Kalau beruntung besok pagi mungkin Hiram sudah membaik. Dan mereka bisa melanjutkan perjalanan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Hiram tidak dapat tidur. Bukan karena badannya yang mulai meriang. Tapi karena dari dalam tendanya ia dapat mendengar Sofi dan Rangga berbincang dengan sangat akrabnya. Seperti dua orang sahabat lama yang dipertemukan kembali. Hiram berharap itu segera berakhir. Tapi sampai malam pun suara mereka masih tetap terdengar. Ada suatu rasa nyeri di dalam dada Hiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ringkuknya Hiram menitikkan air mata. Ia sedih melihat kenyataan seperti itu. Ia sedih melihat Sofi, sahabat perjalanannya yang ia ajak sama-sama melangkahkan kaki pertama hingga bisa menuju ke sini, kini sedang berbincang dengan teman barunya dengan perbincangan yang senikmat perbincangan mereka berdua dulu. Ia merasa sudah tidak harus ada di situ. Ia merasa sudah tidak ada di situ. Ia merasa hilang. Hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja dulu ia melepaskan Sofi bersama Kevin melewati rute Sunset, mungkin kini mereka bisa bertemu di persimpangan ini dan melepas rindu setelah dua hari tidak bertemu. Seandainya saja dulu ia melepaskan Sofi, mungkin kini Sofi masih merasa bahwa Hiram adalah sahabat perjalanan yang memang pantas untuk diajak mencapai puncak bersama-sama. Seandainya. Seandainya. Ah. Semua sudah terjadi. Dan ia kini merasa tak lebih baik daripada sampah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya tenda Hiram dibuka dari luar. Sofi yang melakukannya. Ia ingin melihat apakah Hiram sudah membaik dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Hiram masih meriang dan gemetarnya kian hebat. Kamu kenapa, Hiram? Sofi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nggak apa-apa. Saya nggak apa-apa.” mata Hiram membasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu masih sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit sekali, Hiram berujar dalam hati. Tapi ia menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm. Kalau aku jalan duluan aja tidakkah apa-apa? Lagipula tersisa tiga ribuan meter saja. Aku pasti bisa tiba di sana sebelum besok sore. Kamu tunggu di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiram sudah siap dengan kalimat itu. Dia sudah benar-benar siap. Hiram mengangguk pasrah dan memaksakan senyuman, sekalipun sakit di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia ingin menunjukkan pada Sofi bahwa ia juga bisa melepaskan Sofi. Walau pada kenyataannya dia belum mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Sampai ketemu lagi ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup saya hanya sekali, sayang. Saya hanya ingin mencapai puncak itu sekali saja bersama dengan orang yang saya sayangi. Tidakkah itu terlalu jahat? Atau kamu yang terlalu hebat untuk bisa mencapai puncak setinggi ini berkali-kali, sehingga buatmu bukan masalah komitmen dengan siapa kau ingin mencapainya? Kita memang berbeda. Tapi kenapa kau tidak bersabar untuk menunggu saya benar-benar menjadi orang yang bisa membahagiakanmu? Hiram berkata di dalam hati ketika tirai tenda tertutup dari luar. Beberapa saat kemudian ia muntah karena diserang duka yang mendalam dan selama ini telah berusaha menahannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari kemudian Sofi turun dari puncak bersama dengan Rangga. Terlihat kepuasan di wajah mereka karena merasa telah menaklukkan gunung tertinggi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terakhir mereka meninggalkan Hiram, tenda Hiram tidak ada di sana. Sofi menduga Hiram sudah turun. Sofi hanya tidak mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Ia tidak ingin memikirkan bahwa Hiram bisa jadi saat ini sedang membeku di suatu lereng, dengan tubuh remuk setelah melempar diri sendiri dari ketinggian limaribu meter. Ia tidak ingin memikirkan itu. Ia bukan perempuan yang mau dikungkung. Bahkan oleh pikirannya sendiri.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37616149-116431313845378086?l=maridjan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maridjan.blogspot.com/feeds/116431313845378086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37616149&amp;postID=116431313845378086' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116431313845378086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116431313845378086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maridjan.blogspot.com/2006/11/sahabat-seperjalanan-pagi-itu-di.html' title=''/><author><name>Imam Hidayah Usman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37616149.post-116431309939034606</id><published>2006-11-23T12:18:00.000-08:00</published><updated>2006-11-23T12:18:19.396-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Life to Short&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seberapa masokiskah kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carry Bradshaw sangat masokis dalam hubungannya dengan Mr. Big dalam serial TV paling jenius ; Sex and the City. Dia tetap bertahan sama cowok itu meski Big memperlakukannya angin-anginan. Jinak-jinak merpati. Hangat-hangat kuku (?) Carry tetap mencintai Big meski suatu pagi, bahkan Carry belum beranjak dari tempat tidur, Big mengatakan bahwa dia akan ke Paris pagi itu untuk enam bulan untuk urusan perkerjaan tanpa pernah mempertimbangkan perasaan perempuan itu. Bahkan pulang dari Paris dia membawa Natasha, gadis model yang beberapa bulan kemudian dinikahinya. Puncaknya adalah waktu Big menggoda Carry untuk selingkuh ketika perkawinan sudah tidak nikmat lagi baginya. Perselingkuhan itu berakhir dengan perceraian Big dengan Natasha dan Carry putus dengan Aidan, desainer furniture yang sangat mencintai Carry. Setelah itu, Big memutuskan pindah ke Napa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah episode, diceritakan Big datang ke New York dan mengundang Carry makan malam. Saat itu Big menceritakan kalau dia ke New York untuk operasi lever. Carry menangis di restoran dan di rumah sakit waktu perawat mengobati Big. Di hotel, Carry datang menemani Big untuk pemulihan sebelum dia pulang ke Napa. Malam itu panas badan Big naik tinggi, Carry mengompres dan menelepon dokter. Sambil berbaring, Big bicara serius dengan Carry soal bagaimana hubungan mereka kelak. Big seperti memberi harapan sama Carry, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama mereka pacaran. Tetapi paginya, setelah Big kembali segar bugar, dia balik lagi menjadi Big yang dulu. Cuek bebek. Acuh tapi butuh. Carry menyadari itu dan tidak lagi marah seperti dulu kalau dia diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton lagi episode itu membuat saya teringat kawan saya yang punya hubungan dengan seorang sutradara muda paling berbakat di Indonesia. Dia juga punya persoalan yang sama dengan Carry. Terombang-ambing oleh perasaan, antara maju dan mundur, cinta dan sebal. Dia mewek saat-saat si lelaki ‘jauh’, tetapi sangat bahagia ketika si lelaki hanya sms. Kawan saya ini cukup masokis dengan tetap mengharap si lelaki bisa berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih masokis lagi. Dalam hubungan searah saya dengan Dhiyan, sering saya marah sama diri sendiri, memutuskan untuk mundur, menjauh dan berhenti mencintainya kalau dia melakukan sesuatu yang membuat hati saya sakit, meski dia tidak pernah menyadarinya dan tidak bermaksud begitu. Empat tahun saya terus begitu, baru beberapa bulan belakangan saya lebih kompromis dengan perasaan saya terhadap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Yudi Surya, dalam tujuh bulan kediamannya, saya selalu mengiriminya sms yang sebenarnya tidak bermakna apa-apa, misalnya waktu hujan, sms saya akan berisi ; hujan, senang banget ngeliatnya. Dengan sms itu saya seperti bilang, hubungan kita baik-baik saja (meski sebenarnya tidak baik-baik saja). Di sms lain saya selalu bilang, kalau ada apa-apa kasi kabar, kalau butuh bantuan, kasi tahu dan sering menanyakan kapan dia wisuda. Dan akhirnya setelah tujuh bulan dia datang juga dengan sms hampir jam satu pagi, meminta bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang hubungan saya dengan Yudi baik-baik saja. Perasaan saya sama dia sudah reda. Dia makin gendut, pipinya chubby. Sekarang saya memanggilnya ‘gendut’. Sms kalau saya butuh bantuan soal komputer atau mengajaknya makan. Saya yakin saya tidak lagi mencintainya tetapi hanya menyayanginya. Saya tidak mau lagi ngotot menjadi bagian hidupnya. Awal-awal kami berhubungan baik lagi, saya pernah mau melakukannya. Ada waktu dimana saya sudah kepingin menimang anak, setiap melihat anak kecil, mata saya selalu panas. Kalau udah gitu, saya selalu sms Yudi soal anak-anak itu. Di telpon saya pernah bilang ‘kamu cepat dong punya anak’, tapi dia menjawab diplomatis banget ‘untuk apa?’, pertanyaan yang betul-betul membuat saya diam sebab tidak punya jawaban. Tetapi terus saya meminta satu fotonya waktu kecil, dengan itu saya seperti memiliki masa lalunya, saya menjadi bagian itu. Tetapi dia mengabari kalau dia tidak menemukan fotonya di rumahnya di Tasikmalaya, asumsi saya itu sebuah penolakan halus. Maka saya berhenti. Saya tidak mau lagi menyakiti diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya dekat dengan cowok brondong yang baru Desember nanti berusia dua puluh (dan saya 27 tahun Februari lalu). Anak sastra inggris UGM. Saya pernah terjebak beberapa detik dalam matanya ; saya seperti berada di sebuah tempat yang gelap, hening dan menakutkan, pada sekian detik yang saya inginkan hanya segera pergi dari tempat itu. Waktu itu juga saya mengiriminya sms tentang matanya yang terus dia sebar ke teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, saya tidak pernah mau bikin move apapun sampai kartu mentari yang saya pakai memberi bonus telepon 10.000 perak ke sesama produk Indosat. Saya tidak mungkin lagi menelpon Dhiyan sebab saya sudah tidak punya nomernya. Maka saya iseng saja menelepon dia. Tetapi obrolan tidak berhenti ketika bonus itu habis. Kami ngobrol sampai satu jam lebih kemudian, sampai pulsa saya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali lagi saya meneleponnya. Waktu duduk di depan Robinson Denpasar setelah membeli pengganti alat mandi saya yang ketinggalan di Lombok, sambil melihat gaya anak abg termutakhir ; celana nyaris melorot dengan polem (poni lempar) yang melihatnya saja membuat saya mengerang. Waktu itu dia bilang sedang sering mimpi buruk dan obrolan berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi beberapa hari kemudian entah kenapa dia menuduh saya memakai nomer lain dan mengaku sebagai cewek. Saat bersamaan penyakit autis saya sedang kumat. Saya mematikan telepon berjam-jam dan hanya membuka kalau butuh nomer kontak seseorang. Teman-teman kantor saja geleng-geleng sama keegoisan saya beberapa hari itu. Dan dia keukuh dengan keyakinanya bahwa itu saya, maka, suatu pagi, saya baru mengaktifkan yahoo messengger di kantor waktu dia sms dan mengatakan untuk tidak lagi menghubunginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya meneleponnya untuk mencari tahu kenapa, tetapi dia nggak mau angkat. Waktu saya pakai telepon kantor dia angkat tapi terus dimatikan. Lalu saya sms dia, panjang, 4 sms yang belakangan saya sesali habis-habisan kenapa saya mengirimi sms bodoh itu. Setelah itu saya mencoba meneleponnya lagi, karena dia masih nggak mau angkat, maka nomernya langsung saya hapus dari ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah obrolan kami di telepon, dia pernah bilang kalau seringkali kita menyayangi orang yang salah. Maka setelah beberapa hari, saya menyesal sudah mengirim sms panjang itu. Saya merasa sangat-sangat bodoh, dungu dan idiot. Barangkali benar, saya menyayangi orang yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dengan Yudi adalah sebuah pelajaran berharga yang membuat saya lebih mikir lagi untuk tidak terjebak sama perasaan, tidak reaksioner dan lebih santai. Apalagi setelah hubungan homososial saya dengan Dhiyan juga berakhir setelah saya memutuskan untuk mengakhirinya. Mengubur impian bisa membesarkan anaknya, yang diam-diam sering membuat mata saya dipenuhi air. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa meminta dipeluk seperti kalau kawan saya itu sedang sedih dan pagi-pagi datang ke kantor minta saya peluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya saya sudah jatuh sayang sama anak itu. Sepanjang hidup, saya tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan ‘dek’, bahkan sama adik kandung yang jaraknya tujuh tahun sama saya, tetapi dalam sms, saya memanggilnya dengan sebutan itu. Belum pernah secara verbal. Tetapi tiga hari lalu saya bermimpi memanggil dia dengan sebutan itu secara verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka sekali ngobrol sama dia meski hanya di telepon, saya kepingin sesekali bisa memeluknya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Saya sudah dapat banyak pelukan kalau saya sedih, maka saya kepingin membagi tubuh saya untuk orang lain dengan harapan dia juga akan membagi tubuhnya untuk orang lain yang butuh dipeluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya bisa juga melepaskan genggaman dari tangan Dhiyan dan seperti Carry Bradshaw, pagi waktu dia mendapati Mr. Big kembali menjadi dirinya sendiri ; dingin, acuh tak acuh, setelah malamnya dia hangat dan membicarakan hari tua mereka berdua, dia tidak lagi mengamuk tetapi hanya menghela nafas, tersenyum dan bilang ‘life to short’.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37616149-116431309939034606?l=maridjan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maridjan.blogspot.com/feeds/116431309939034606/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37616149&amp;postID=116431309939034606' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116431309939034606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116431309939034606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maridjan.blogspot.com/2006/11/life-to-short-seberapa-masokiskah-kamu.html' title=''/><author><name>Imam Hidayah Usman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37616149.post-116430504781087498</id><published>2006-11-23T10:03:00.000-08:00</published><updated>2006-11-23T10:04:07.813-08:00</updated><title type='text'>Test</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Test&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin ajaini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin ajaini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja ini cuma test jadi cuekin aja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37616149-116430504781087498?l=maridjan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maridjan.blogspot.com/feeds/116430504781087498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37616149&amp;postID=116430504781087498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116430504781087498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116430504781087498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maridjan.blogspot.com/2006/11/test.html' title='Test'/><author><name>Imam Hidayah Usman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37616149.post-116361203425466507</id><published>2006-11-15T09:33:00.000-08:00</published><updated>2006-11-15T09:33:54.263-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;test&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haiiiiiiiiiiiiiii&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37616149-116361203425466507?l=maridjan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maridjan.blogspot.com/feeds/116361203425466507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37616149&amp;postID=116361203425466507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116361203425466507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37616149/posts/default/116361203425466507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maridjan.blogspot.com/2006/11/test-haiiiiiiiiiiiiiii.html' title=''/><author><name>Imam Hidayah Usman</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
